MAKALAH TKW SEBAGAI HASIL DARI BUDAYA INSTAN Sebuah Studi kasus di Desa Sindangkerta kec. LohbenerIndaramayu


        BAB I PENDAHULUAN
            Pada bulan Januari sampai dengan Maret 2010 lalu saya dengan 18 teman-teman saya ditempatkan KKNM (kuliah kerja nyata mahasiswa) di desa Sindangkerta kecamatan Lohbener, Indramayu. Semingu pertama disana kita mengadakan survey lapangan atau sering disebut dengan pemetaan social. Artinya dalam waktu semingu itu kita mengadakan pendekatan dengan masyarakat setempat, perkenalan, pengakraban diri, visi dan misi awal dengan masyarakat. Yaitu bahwa kita akan mengadakan suatu perbaikan beberapa sarana soaial, pendidikan, kesehatan. Walaupun belum tau persis penyuluhan seperti apa yang akan dilakukan, yang pasti peserta KKNM ini akan melakukannya setelah mengetahui, mempelajari apa yang sebenarnya yang harus dibenahi dari desa .
            Setelah selesai mengadakan pemetaan social, kita mendapatkan salah satu fakta dari beberapa fakta yang ada bahwa perempuan – perempuan yang sudah menginjak umur 17 tahun sudah bisa menjadi buruh tenaga kerja yang akan dikirimkan keluar negeri. Diluar negeri pekerjaan mereka sebagai pembantu rumah tangga. Nergara-negara yang kerap menjadi tujuan mereka adalah Taiwan, Singapura, Kuwait, Hongkong, Uni Emirat Arab, Brunei, Korea, Yordania, Tunisia-Oman, Qatar. Rata-rata rumah yang kita datangi, mengatakan bahwa ibu, istri dan anak perempuan mereka sedang berada di “luar negeri”. Pada saat perkunjugan kebeberapa rumah ini ada satu keganjalan yang kami dapatkan dari obrolan tiap-tiap peserta KKNM dengan warga, yaitu warga sangat bangga dengan pekerjaan menjadi tenaga kerja yang katanya di “luar negeri” itu. Mereka menggab bekerja diluar negeri seperti yang kerap mereka ketahui sangat membanggakan keluarga, menggangkat derajat social keluarga. Padahal anggota keluarga perempuan mereka itu dikirim keluar negeri kebanyakan menjadi pembantu rumah tangga dan menjadi buruh pabrik. Sekarang ‘mereka-mereka’ ini kita kenal dengan Tkw (tenaga kerja wanita), yaitu manita-wanita yang dikirim keluar negeri untuk menjadi tenaga buruh. Sebutan TKW ini khusus untuk ‘mereka’ yang bekerja diluar negeri sebagai buruh rumah tangga, buruh pabrik, buruh perusahaan.
Harapan mereka yang bekerja diluar negeri ini dapat memperbaiki perekonomian keluarga, namun realita menunjukkan bahwa mereka ‘ber-uang’ hanya sementara waktu, ketika beberapa tahun sesudah kepulangan sang anak, istri, ibu dari luar negeri. Hal ini terlihat dari rumah-rumah yang mereka bangun di desa itu, rumah mereka rata-rata sudah terbuat dari semen, ada yang masih berlantai semen ada pula yang berlantaikan keramik dan ubin. Rumah-rumah itu terlihat bagus dari luar, namun dalamnya kurang penataan yang baik seperti pencahayaan yang kurang  pas, ventilasi yang kurang, MCK rumah yang kurang memenuhi standart serta kebersihan rumah yang sangat-sangat kurang. Rumah itu memperlihatkan dengan jelas bahwa mereka mementingkan sekali penghormatan dari masyarakat lain. Setelah rumah selesai dibangun, uang habis kembali menjadi buruh. 
BERSAMBUNG

Comments

Popular Posts